Jumat, 27 November 2009

Menata Kembali Mozaikku

Ada hal yang melegakan
Setelah sebuah mozaik harus hancur oleh hal duniawi

Kepingan mozaik persaudaraan yang pernah terberaikan
Karena kaki harus berdiri
Karena tangan tak boleh menengadah kecuali pada-Nya

Saudara-kerabat yang telah terpecahkan
Dari...hingga...
Waktu kami terberai karena harus hidup

Saudara-kerabat yang meninggalkan kerana tak mau repot mengurus yang terbuang
Yang ditinggal oleh penggembalanya...
Yang harusnya bertanggung jawab atas keberadaannya...

Satu-satu kutemukan lagi...
Meski mereka tak mungkin kusatukan...
Kerana aku bukan apa-apa di depan mereka
Tapi bolehlah aku bahagia setelah dapat kutemukan mereka...
Kusatukan mereka dalam satu inbox

Aku tak peduli masihkah ada perseteruan antara mereka
Tapi aku ingin melihat gigi mereka dalam senyum...


Thank You to:
De Mis, Mbak Nanik, Mbak Miming, Mas Heri, Mas Cuk, Mas Dedy...
Lek Ujik, Lek Sum, Kiki & Gembvl...
De Sam, Mas Nanang, Mas Wid...
Lek Hum, Lek Tunuk, Aci, Bagong, Toti...
Mas Sofi, Mbak Pipit-Mas Rusdi, Ucon...
De Samma, Yu Um, Cak Sipul...

(Dan aku ingin temukan kalian dalam facebook....hehehehe)

Selasa, 13 Oktober 2009

M E R A H




Beberapa sulutan kusikapi dengan langit biru
Tapi sulutan yang ini telah meMERAHkan langitku
Sekali MERAH tak mudah untuk membuatnya biru

Tak hanya menyayat hatiku
Tak hanya menginjak kepalaku
Tapi juga merendahkan orang-orang yang menjunjungku

Aku memang seorang anak hilang
Tak ada kerabat juga saudara
Aku berdiri hanya di dua kakiku

Ya...
Aku memang seorang anak hilang
Langitku telah MERAH
Tak mudah, tak singkat untuk membiru

Bila KAMU tak terima
Aku siap untuk tak sehadap denganmu

Minggu, 23 Agustus 2009

Pertama Kali Ada dan Tersedia

Mereka adalah tangan-tangan yang pertama kali menyentuhku
Mereka adalah telinga-telinga yang pertama kali mendengar tangisku
Mereka adalah mata-mata yang pertama kali memandangku penuh kebanggaan

Melalui tangan, telinga dan mata mereka itu, hati-hati mereka merengkuh hatiku
Dan perhatian itu tertumpah padaku

Ketika usiaku 10, mulutku merengek meminta sepatu
Tidak dalam hitungan hari sepatu itu ada di depanku

Saat di usia 10, air mataku mengalir karena sedih
Tangan bapakku merengkuhku untuk menenangkan
Hilangkan sedihku
Buatku kembali tersenyum

Saat aku 10 tahun, aku berteriak karena perutku lapar
Jemari ibuku menyuapkan nasi dengan lauk kesukaanku
Sejumput nasi dengan secuil ikan tuna masuk ke dalam mulutku
Hingga perutku kenyang dan tidak berteriak lagi
Teriakku berubah menjadi tertawa riang

Dan mereka tersenyum dapat membuatku bahagia

Semalam aku bertanya pada diriku
Tepatnya pada hatiku
Juga otakku

Kemana pertama kali perhatian ini tertuju setelah kaki berdiri tegak?
Perhatian ini tertuju pada seorang kekasih yang sekarang entah ada dimana, bukan pada mereka

Kepada siapa belai itu pertama kali diberikan?
Belai itu diberikan pada seorang pelacur yang menginginkan uang pemberian bapak-ibuku
Bukan pada bapak-ibu belai itu diberikan saat mereka tua

Untuk siapa uang hasil kerjaku pertama kali kubelanjakan ?
Uang itu habis di restoran untuk mentraktir teman-teman yang baru kukenal
Bukan untuk keluargaku yang telah membiayai hidupku

Saat aku kekurangan
Yang pertama kali ada di otakku adalah minta bantuan pada keluarga
Tapi dimana aku saat keluargaku butuh bantuan
Keluarga menjadi tempat terakhir untuk mengulurkan tangan

Ketika aku didera sebuah cobaan
Yang pertama terlintas adalah pulang ke keluarga
Tapi dimana aku saat satu dari keluargaku mendapat deraan
Lari menjauh agar tidak menambah beban yang kuciptakan sendiri

Saat perempuan itu butuh perhatian
Aku datang dan memberikan apa yang dia inginkan
Tapi tidak sedetik pun kusisakan waktu ku meski hanya sekedar telepon menanyakan bagaimana kabar keluargaku

Pertama kali aku ada
Mereka tersedia untuk segala keinginan dan kebutuhanku

Tapi aku hilang
Dan tidak menyediakan hati serta diriku untuk mereka

Pulanglah...
Keluargamu membutuhkan hadirmu...

Negeri(-nya) [Bermental] Maling

{baca = Negerinya Maling / Negeri Bermental Maling / Negeri Maling}

Sudah berapa kali sih malaysia itu mencuri milik kita..???
1. Batik
2. Reog Ponorogo
3. Lagu Rasa Sayange
4. Angklung
5. Tari Pendet
6. Tari Kuda Lumping (Jaranan)
7. Pulau Sipadan Ligitan
8. Berencana maling di Blok Ambalat, sampai kejar-kejaran hingga perlu terbirit-birit ambil jalan zig-zag biar gak kena tembak sama TNI-AL
9. Hak-hak TKI yang kerja di Negeri Maling itu
10. Pemukulan, penganiayaan, belum lagi gaji yang gak diberikan
11. Noordin Top yang ngebom negeri Indonesia, kenapa gak ngebom negerinya sendiri yang sudah jelas maling yang perlu diberantas.

Itu sih baru beberapa saja (yang ketauan), itupun dipakai untuk jualan, jual pariwisata mereka.
Dasar Negara Pencuri
Aparatnya kenapa mengijinkan milik orang lain dipakai untuk kepentingan mereka
Ya berarti aparatnya juga maling
Warganya juga pastinya Maling

Kayaknya kita (harus) mesti berhati-hati dengan tetangga yang maling
Pertanyaannya sekarang adalah:
APALAGI YA YANG MAU DICURI SAMA MALING ITU..??

Senin, 20 Juli 2009

Kisah Ayah


Sebuah forward dari seorang teman yang diambil dari tulisan Bayu Gautama.
Photo by Rudi B. Prakoso

=

Seperti mengutip kata Bayu Gautama..
"Genggamlah gundahmu dengan senyum karena Allah suka terhadap
orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh
dan gundahnya. Semoga".

=

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
"Yah, beras sudah habis loh...," ujar isterinya. Suaminya hanya
tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh
panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah, besok Agus harus bayar uang
praktek."

"Iya...," jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah
lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok
beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah"
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya
pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor
sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia
cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering
mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya
terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,
nanti semua Ayah bereskan," meski dadanya bergemuruh kencang dan
otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah
yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang
dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama
menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak
perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau
berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya
tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat
sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari
itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.
Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia
menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa,
menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh
aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela
menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya
kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu,
agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini,
masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam
kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan
gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah,
atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang
tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar
massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan
ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga. (Bayu
Gautama)