Please imagine. Pictures are not available, the camera was lost with all captures. Sorry to readers.
H-10 musim mudik lebaran 1429H / 2008M sudah sangat terasa. Bahasan pembelian tiket untuk pulang kampung hangat dibicarakan di setiap sisi kota ini. Tak terkecuali di pabrik tempatku bekerja.
Aku memang tidak mengajukan cuti tambahan setelah cuti bersama. Jadi tanggal 6 Oktober 2008. Aku memang merencanakan untuk tidak pulang ke Jember, karena bulan Agustus 2008 lalu aku sempat pulang ke Surabaya untuk pernikahan adikku. Jadinya aku minta ijin ibuku untuk nggak pulang pada Lebaran 1429H ini. Dan ibuku memberikan ijin untuk nggak pulang. Ibuku sendiri memutuskan untuk berlebaran di Surabaya, di rumah Bu De ku.
Kurang lebih H-5, Didit-temanku, mengajakku ke Lampung, istrinya orang Lampung. Ditambah lagi Gembvl-temanku juga, menawarkan motornya kalau aku mau pergi ke Lampung. Pikir-pikir...lalu aku putuskan untuk jalan ke Lampung.
Sabtu, 27 September 2008, 10.00:
Persiapan motor, ganti oli dan ban dalam depan.
Sabtu, 27 September 2008, 19.00:
Menjenguk temanku yang lain, Rudi-Lia yang melahirkan putra ke-2 mereka.
Sabtu, 27 September 2008, 21.00:
Perjalanan dimulai dari rumah kontrakan Didit. 2 motor 4 orang. Didit bersama Elly-istrinya. Aku bersama Rifa’i-adik Elly yang juga staff QC di tempatku bekerja.
Perjalanan menyusuri Jalan Inspeksi Kalimalang cukup lancar hingga daerah Jaka Sampurna, Bekasi. Setelah itu macet bukan main. Jumlah motor bisa dikira lebih dari 10.000 motor hingga pertigaan jalan Raden Inten, belum termasuk mobil.
Perjalanan kembali lancar setelah melalui Lampu Merah Jati Asih. Cawang, sepanjang jalan di tepian jalan tol dalam kota Jakarta, Kalideres, Kota Tangerang, hingga menjelang Cikande.
Minggu, 28 September 2008, 00.30:
Kami harus berhenti di SPBU, Balaraja Barat sebelum Kawasan Industri Modern Cikande. Didit kehabisan bensin, sedang motorku masih belum perlu isi ulang. Sambil menunggu antrian Didit, aku bersama Rifa’i dan Elly beristirahat. Beberapa pemudik motor juga banyak yang beristirahat.
Minggu, 28 September 2008, 01.00:
Perjalanan kembali dilanjutkan. Tidak ada macet, hanya volume pemudik bertambah.
Minggu, 28 September 2008, 02.00:
Kami kembali harus berhenti. Motorku butuh tambahan bensin. Berhenti di SPBU kota Cilegon.
Minggu, 28 September 2008, 02.15:
Perjalanan mulai macet. Kurang lebih 5km menjelang Pelabuhan Merak.
Minggu, 28 September 2008, 02.30:
Sampai di Pelabuhan Merak, berhasil menyusur kemacetan yang kurang lebih sepanjang 5km. Sampai di depan pintu penyeberangan, kami harus berhenti. Tidak jelas apa masalahnya. Yang jelas perjalanan tidak dapat dilanjutkan. Sekumpulan motor harus stagnant. Persis genangan air di cekungan. Kondisi ini berlangsung sangat lama dan menjengkelkan.
Dalam penantian yang serba tidak jelas, bayak fotografer yang memanfaatkan moment ini untuk mendapatkan best captures masing-masing. Hingga satu diantara pengendara motor ada yang pingsan, tak satupun petugas atau fotografer atau wartawan nggak jelas itu datang membantu. Diteriaki bahwa ada yang pingsan, mereka hanya melemparkan sekejap lampu blits mereka dengan sombongnya. Akhirnya pemudik lain yang membantu menyadarkan orang yang pingsan.
Aku sendiri seperti sudah nggak kuat. Tidak ada makanan atau minuman. Hanya ada sisa air mineral setengah dari kemasan sedang. Aku tuntaskan untuk sahur, kuminum kurang lebih pukul 04.30 sebelum adzan subuh. Letih, ngantuk sudah meliputi semua pemudik motor. Aku tertelungkup pada stang motor. Rifa’i mendekapku agar tidak jatuh karena iapun ngantuk berat. Kepalanya sudah nggak bisa diangkat. Dekapannya pun sama sekali tidak erat, hanya sebagai indikator kami masih bersama-sama di atas satu motor.
Masa penantian inipun masih belum berakhir.
Minggu, 28 September 2008, 07.10:
Motor kembali bergerak. Gate pembelian tiket menyeberang kembali dibuka. Rifa’i berlari turun dari motor untuk membeli tiket hingga kami bisa masuk ke dermaga. Inipun kami harus kembali menunggu. Antrian lebih padat. Ngantuk kembali menyerang. Rifa’i hampir terjatuh karena pegangannya di perutku terlepas saking letihnya, akupun ikut terkejut. Emosi kembali meningkat karena motor tidak segera dimuat ke dalam kapal, sedangkan sudah lebih dari 70 mobil dimuat ke dalam kapal.
Minggu, 28 September 2008, 08.00:
Kami mulai bergerak mendekati dermaga. Dan akhirnya...motorku dapat memasuki dek kapal. Lega rasanya...tapi mata sudah tak berkehendak untuk pejam. Ngantuk hilang, begitu juga Rifa’i. Tapi Didit dan Elly, begitu mendapat tempat duduk di kapal, langsung tidur.
Minggu, 28 September 2008, 08.20:
Kapal mulai bergerak menjauhi dermaga. Beberapa pemuda minta di sawer dengan uang untuk melompat dari dek teratas terjun ke laut hanya untuk mengejar kepingan 500 Rupiah. Kurasakan detik demi detik perjalanan kapal ini. Baru pertama kalinya aku menggunakan jasa transportasi laut. Kami berada di dek lantai 2 KM Rajabasa.
Minggu, 28 September 2008, 09.30:
Pelabuhan Merak, Banten sudah tidak nampak. Sebagai gantinya, Tugu Siger Lampung berwarna kuning mulai terlihat meski belum sangat jelas. Rifa’i menjelaskan bahwa itulah lambang masyarakat Lampung. Tugu kebanggaan mereka. Bentuknya seperti mahkota, warna kuning diibaratkan emas, dan warna ini memang sudah terlihat meski posisi kapal masih jauh.
Kapten kapal mengumumkan bahwa kapal harus berhenti karena kapal harus antri untuk masuk ke dermaga. Kurang lebih 1 jam.
Minggu, 28 September 2008, 10.30:
Kapal merapat. Pintu dek paling bawah dibuka depan dan belakang dan semua motor naik ke dek lalu keluar kapal. Welcome to Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Lega rasanya hati ini. Udara Lampung sudah bisa kuhirup. Panas, tapi angin laut seakan menghilangkan rasa panas yang saat itu memang sangat menyengat.
Perjalanan masih jauh. SPBU pertama kami lalui. Rencananya kami akan isi bensin, tapi sudah nggak mungkin, antrian begitu panjang. Akhirnya SPBU kedua kami berhenti. Didit isi bensin. Dan di sini juga saya menyudahi puasa saya hari itu. Terlalu panas, tenggorokan sangat kering dan terasa sangat perih.
Setelah berhenti isi bensin, Rifa’i menawarkan diri untuk menggantikan aku mengendarai motor. Tapi saking bahagianya, aku nggak mau di ganti. Aku ingin menikmati perjalanan ini.
Perjalanan diteruskan menuju Kecamatan Pring Sewu, Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan. Pemandangan yang very-very nice nggak dilewatkan untuk capture beberapa objek di sana. Hingga akhirnya perut nggak bisa ditahan karena hari itu nggak puasa (nggak kuat...he..he..). Kami putuskan untuk makan dulu di sebelahnya Rumah Makan Padang Tiga Saudara, sebuah kedai makan kecil di pinggir tembok pagar rumah makan tersebut.
Makanan & minuman:
Soto 3 mangkok + nasi putih
Bakso 1 mangkok
Teh Botol 3
Air Mineral dalam kemasan 1 (merek lokal grand, bukan aqua)
Kopi tubruk 1 cangkir
Total yang harus di bayar 91ribu, wow.....mahal amat....
Aku sempat kaget karena bawa uang hanya 30ribu, ya...kurang jadinya...tapi setelah ngumpulin uang iuran, akhirnya bisa terbayar juga...he...he...jadi makan rame-rame & bayar rame-rame juga...
Perjalanan masih sangat panjang...aku masih sempat isi bensin sekali lagi. Didit sudah melaju dan nggak terlihat... Selepas mengisi bensin, motor kembali dipacu. Sesampainya di depan Rumah Sakit Immanuel Lampung belok kiri dan jalanan menyempit. Melintasi pintu perlintasan kereta api, sampailah kami di kota Tanjung Karang. Didit isi bensin, aku sholat Dhuhur dijamak & qoshar dengan Ashar, dan akupun harus menyerahkan stang motor ke Rifa’i, sudah ngantuk berat...
Minggu, 28 September 2008, 14.00:
Perjalanan dilanjutkan. Rifa’i pegang kendali. Dia langsung menuju rumah, jalannya berkelok-kelok. Pasar Pring Sewu belok kiri, teruuussss, menikung....lurus lagi...pasar Ambarawa belok kanan...ikut aja jalanan, lalu...
Minggu, 28 September 2008, 15.30:
Sampai juga di rumah...Setelah bersalaman dengan seluruh isi rumah yang nggak lain adalah keluarga besarnya Elly...aku langsung tidur, telungkup, karena pantat udah mati rasa...
Minggu, 28 September 2008, 17.30:
Aku terbangun, Ferry temanku yang di Malang telepon. Dia tanya kapan bisa ketemu di Jember. Aku bilang kalo aku ada di Lampung, dia ketawa tapi kaget...ngapain ke Lampung? Dia mau buka usaha konsultasi untuk remaja dan rumah tangga. Its good. Tapi aku mau tanya dia mau buka di mana, di Jember, Malang, Surabaya atau di mana...? Telepon keburu putus karena signal Telkomsel kurang bagus di sana.
Liburan pun dimulai...
Keesokan harinya aku pergi ke gunung tempat Bapaknya Elly. Ambil daun melinjo, pepaya masak dan pepaya muda untuk sayur, kemiri, merica, nangka muda (tewel), daun cincau...ya untuk buka nanti... Wih... kayak mall aja, tinggal ambil apa yang kita mau, tapi nggak usah bayar...enak bener kalo punya gunung...
Selama beberapa hari libur Lebaran, kerjaan cuman tidur, nonton TV, jalan-jalan ke gunung, sawah dan menyusuri jalanan sempit berlubang tapi menyenangkan, pake motor pinjeman. Saluran TV Nasional yang tertangkap bagus di Lampung antara lain RCTI, SCTV, Indosiar, Trans7, Anteve, TVRI, Space Tone (tapi kurang bersih), Elshinta TV (sangat nggak jelas, ini TV Lokal Jakarta).
Menservis pompa air di rumah, karena out put air yang sangat kecil. Semuanya dibersihkan. Tapi naas sekali, setelah diservis, air malah nggak keluar sampai sekarang...
Lebaran disana nggak jauh beda dengan di Jember. Tradisi berkunjung ke sanak dan kerabat, berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dengan tetangga. Di sana masih ada tradisi sungkeman pakai bahasa jawa kromo inggil, wah aku bggak ngerti dan nggak bisa sama sekali. Shalat Idul Fitri dilakukan di Masjid Babussalam, Rabu tanggal 1 Oktober 2008, tapi ada yang berlebaran hari Selasa 30 September 2008.
Meski belum puas dan rasa malas untuk kembali ke Jakarta menyelimuti, mau nggak mau kami harus kembali ke Jakarta. Kerjaan sudah nunggu. Pabrik siap meng-on-kan kembali mesin-mesinnya.
Jum’at, 3 Oktober 2008, 17.00:
Mulai packing pakaian untuk dibawa kembali. Ditambah lagi oleh-oleh kue lebaran yang ada di rumah, ditambah beras 5kg, tape ketan 1 tas plastik.
Lumayan berat.
Jum’at, 3 Oktober 2008, 17.30:
Rifa’i datang ke rumah, untuk konfirmasi jam berapa mau berangkat ke Jakarta....
Jum’at, 3 Oktober 2008, 20.00:
Rifa’i bersama Bapak & Ibunya datang ke rumah, mengantarkan sang anak untuk kembali ke perantauan. Aku jadi ingat ibuku yang selalu meluangkan waktu 1 hari full kalo aku sudah mau kembali ke Jakarta. Aku telepon ibuku di Surabaya nggak diangkat, sepertinya lagi ke luar rumah...
Jum’at, 3 Oktober 2008, 21.05:
Kami berangkat kembali ke Jakarta. Sedih.....banget, aku memang bukan bagian dari keluarga ini, tapi rasanya sedih juga ketika harus meninggalkan desa ini, meski kekurangan fasilitas, jauh dari status kota, tapi ya itu yang aku rasakan, sedih.....dan dalam....banget.
Menyusuri jalan sempit, berlubang dan gelap. Sekarang giliran Rifa’i yang pegang stang motor. Aku bonceng di belakang, pegangan dengan erat karena dengan kecepatan segitu motor sangat sensitif meski dengan sedikit guncangan.
Perjalanan malam itu sangat lancar. Nggak ada macet, nggak ada kecelakaan,hanya gelap, ngerinya kalo ada yang menyeberang, jalan turunan-tanjakan dan berliku.
Jum’at, 3 Oktober 2008, 23.00:
Kami berhenti di SPBU Kalianda. Isi bensin dan ke toilet. Perjalanan dilanjutkan kembali.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 00.30:
Kami berhenti untuk beli kemplang. Aku beli 5 pack, 1 pack 4 bungkus. Jadi aku beli 20 bungkus. Nggak perhitungan sih...jadinya susah bawanya. Ringan sih...tapi kan volumenya besar, kebawa angin jadinya berat...masuk ke dalam tas Rifa’i 1 pack, 4 pack dimasukkan ke plastik besar, aku yang bawa....
Sabtu, 4 Oktober 2008, 01.30:
Kami sudah masuk kapal di Pelabuhan Bakauheni, tanpa antri, tanpa menunggu, tanpa berdesakan, tanpa berteriak, tapi asap knalpot bus...tetep ada. Tidak lama berselang kapal berangkat. Kamipun makan nasi yang sudah disiapkan oleh Ibunya Elly. Selesai makan kami tidur, safing energi untuk perjalanan berikutnya.
Setiap kesempatan untuk ambil gambar pasti nggak pernah terlewat. Di atas kapal saat berangkat, saat turun kapal, saat di jalanan, di SPBU, di rumah, Tugu Siger Lampung, pokoknya semua moment perjalanan ini terekam dalam kamera digital Canonku. Ditambah lagi dari kamera analog temanku.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 03.00:
Kapal sudah merapat di Pelabuhan Merak. Sekali lagi capture pakai kamera analog temanku, aku juga ingin capture dengan kamera digitalku. Waduh....tahu-tahu kameraku sudah nggak ada. Resleting tasku terbuka...jangan-jangan pas naik tangga dari dek bawah ke dek lantai 3 kapal....hee........eeeehhhhh....bukan kameranya aja yang sayang.....semua gambar ada di situ.....
Sabtu, 4 Oktober 2008, 03.05:
Motor kembali dipacu, dengan kecepatan maksimum, mumpung jalanan sepi, kami mengejar matahari, sebelum terbit matahari, kami sudah harus melewati Jakarta, kalo nggak, sudah pasti macet dan otomatis sampai rumah pasti siang.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 03.20:
Kepala Rifa’i sudah bergoyang lebih dari 3 kali. Aku tanya dia jangan-jangan sudah ngantuk....ternyata dia memang sudah nggak kuat ngantuk. Aku menggantikannya.
Kecepatan nggak berkurang hingga pertigaan Citra Raya, Cikupa. Kakiku terasa kaku, dingin dan mati rasa. Aku mengurangi kecepatan karena khawatir kakiku nggak bisa menginjak rem. Didit sudah jauh di depan, tapi rupanya dia menungguku. Aku bilang kalau kakiku kaku, Rifa’i nggak bisa menggantikan aku, dia terlalu letih, pegangan dia sudah sering kali longgar, sering kali pula aku menarik tangannya agar berpegangan lebih erat.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 04.00:
Kami sampai di Kalideres, pas di depan terminal.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 05.00:
Sampai di Cawang kebingungan. Lewat jalan yang mana. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 4 menit untuk berputar-putar akhirnya ditemukan juga arah yang ke Kalimalang.
Sabtu, 4 Oktober 2008, 05.30:
Kami isi bensin di SPBU Kalimalang setelah melewati Lampu Merah Jati Asih. Ke toilet, langsung jalan lagi. Kecepatan tidak bisa maksimal. Sudah banyak angkot dan motor lain dengan arah yang sama.
Persis jam 06.30, aku dan Rifa’i sudah sampai di Jababeka, 06.35 sampai juga ke rumah....dan ternyata Didit belum sampai, kupikir dia malah sudah sampai duluan...Jam 07.02 Didit baru nongol di depan pintu. Lega juga akhirnya. Perjalanan ke Lampung...baru sekali ini aku ke Sumatera, meski kameraku hilang, tapi seneng juga....kalo ke Jember naik motor dari Jakarta...bisa nggak ya....
Senin, 06 Oktober 2008
Minggu, 21 September 2008
Alhamdulillah, Engkau keluarkan aku dari lingkaran hitam
Sebuah kebahagiaan yang tak pernah dapat ditakar. Ketika do’a yang selama ini dipanjatkan dijawab oleh-Mu. Bukan pengkabulan do’a, tapi apa yang kuminta justru telah membuatku semakin lelah.
Kisah demi kisah diperdengarkan. Keluh dan kesah berubah menjadi hati dan wajah yang keras. Keprihatinan yang kurasa dalam hati, kusadari tidak akan merubah apa yang dirasakan oleh sekelilingku malam itu.
Aku telah berada di sisi dunia yang lain dari mereka. Mereka yang dulu adalah sebagian dari nafasku, bagian dari langkahku.
Tak kusangka, bahwasannya mereka yang jauh kini ada dekat bersamaku. Mereka yang satu kepala denganku kini jauh sekali, entah di mana mereka. Tak pernah kudengar, tak pernah kurasa lagi.
Baru saja aku pulang dari safari hatiku. Selepas sholat Tarawih, teman lamaku menyusulku untuk menghabiskan malam bersama-sama. Mereka bercerita tentang perusahaan tempat mereka bekerja. Cerita tentang para pejabatnya yang telah berpaling dari mereka, padahal para pejabat itu saat masih bergelut dengan besi, berjuang bersama-sama mereka untuk memperjuangkan hak sebagai buruh di sana.
Aku tersenyum, bukan mencibir. Beberapa tokoh wayang muncul di pikiranku, dialah sengkuni. Bedanya, kalau dalam cerita wayang, sengkuni itu ya hanya satu saja. Tapi dalam cerita ini, hampir semua pejabatnya mirip sengkuni. Selain sengkuni, muncul tokoh buto ijo, yang tamak dan keji.
Aku tidak menyebutkan sau namapun, yang teman-temanku, yang pejabat, yang pengkhianat, yang malaikat. Mungkin para pembaca tak akan pernah mengerti tentang kondisi yang ada bila tidak masuk ke dalam lingkungan mereka. Bukannya aku sok tahu, aku memang tidak lagi berada dlam perusahaan yang sama, tapi aku pernah menjadi bagian di sana, dan hingga saat ini, bau nafas perusahaan itu, masih dapat kurasa, masih dapat kulihat.
Aku hanya bisa prihatin. Dulunya, saat perusahaan itu masih bukan apa-apa, kami nggak perlu menjadi pengkhianat bagi yang lain. Kini saat perusahaan ini sudah mampu berdiri tegak dan tinggal pengembangan saja, mengapa sampai perlu menjadi pengkhianat bagi yang lain
Ya Alloh, hamba bersyukur Engkau keluarkan aku dari lingkungan yang menyesatkan itu. Aku bersyukur atas kasih dan sayang-Mu padaku tidak menjadikan aku bagian dari mereka. Aku bersyukur Engkau tidak mengabulkan do’aku untuk tetap stay di sana.
Kisah demi kisah diperdengarkan. Keluh dan kesah berubah menjadi hati dan wajah yang keras. Keprihatinan yang kurasa dalam hati, kusadari tidak akan merubah apa yang dirasakan oleh sekelilingku malam itu.
Aku telah berada di sisi dunia yang lain dari mereka. Mereka yang dulu adalah sebagian dari nafasku, bagian dari langkahku.
Tak kusangka, bahwasannya mereka yang jauh kini ada dekat bersamaku. Mereka yang satu kepala denganku kini jauh sekali, entah di mana mereka. Tak pernah kudengar, tak pernah kurasa lagi.
Baru saja aku pulang dari safari hatiku. Selepas sholat Tarawih, teman lamaku menyusulku untuk menghabiskan malam bersama-sama. Mereka bercerita tentang perusahaan tempat mereka bekerja. Cerita tentang para pejabatnya yang telah berpaling dari mereka, padahal para pejabat itu saat masih bergelut dengan besi, berjuang bersama-sama mereka untuk memperjuangkan hak sebagai buruh di sana.
Aku tersenyum, bukan mencibir. Beberapa tokoh wayang muncul di pikiranku, dialah sengkuni. Bedanya, kalau dalam cerita wayang, sengkuni itu ya hanya satu saja. Tapi dalam cerita ini, hampir semua pejabatnya mirip sengkuni. Selain sengkuni, muncul tokoh buto ijo, yang tamak dan keji.
Aku tidak menyebutkan sau namapun, yang teman-temanku, yang pejabat, yang pengkhianat, yang malaikat. Mungkin para pembaca tak akan pernah mengerti tentang kondisi yang ada bila tidak masuk ke dalam lingkungan mereka. Bukannya aku sok tahu, aku memang tidak lagi berada dlam perusahaan yang sama, tapi aku pernah menjadi bagian di sana, dan hingga saat ini, bau nafas perusahaan itu, masih dapat kurasa, masih dapat kulihat.
Aku hanya bisa prihatin. Dulunya, saat perusahaan itu masih bukan apa-apa, kami nggak perlu menjadi pengkhianat bagi yang lain. Kini saat perusahaan ini sudah mampu berdiri tegak dan tinggal pengembangan saja, mengapa sampai perlu menjadi pengkhianat bagi yang lain
Ya Alloh, hamba bersyukur Engkau keluarkan aku dari lingkungan yang menyesatkan itu. Aku bersyukur atas kasih dan sayang-Mu padaku tidak menjadikan aku bagian dari mereka. Aku bersyukur Engkau tidak mengabulkan do’aku untuk tetap stay di sana.
Kamis, 11 September 2008
KISAH SEDIH DARI BALI
Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengerajin perak dari Gianyar, Bali. Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual PropertyRights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.
"Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa motifasli Bali seperti `patra punggal', `batun poh', dan beberapa motif lainnya juga dipatenkan." kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.
Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana. Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing. Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.
Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. "Sebelumnya, dalam satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak. Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan satu desain pun." ujarnya hari ini.
Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan budaya ditanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi Toraja, KopiAceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain sebagainya.
LANGKAH KE DEPAN, Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago CultureInitiatives (IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di http://budaya- indonesia. org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu.
Setidaknya ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:
"Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa motifasli Bali seperti `patra punggal', `batun poh', dan beberapa motif lainnya juga dipatenkan." kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.
Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana. Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing. Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.
Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. "Sebelumnya, dalam satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak. Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan satu desain pun." ujarnya hari ini.
Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan budaya ditanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi Toraja, KopiAceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain sebagainya.
LANGKAH KE DEPAN, Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago CultureInitiatives (IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di http://budaya- indonesia. org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu.
Setidaknya ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:
- Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik bantuan ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi IACI di email: office@budaya- indonesia. org
- Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secaraoptimal. Jadi, jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atauvideo tentang budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA, dengan alamat http://budaya- indonesia. org/ Jika Anda memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di email: office@budaya- indonesia.org-
Lucky Setiawan
nb: Mohon bantuanya untuk menyebarkan pesan ini ke email ke teman, mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari kita dukung upaya pelestarian budaya Indonesia secara online.
Terima kasih Pak Lucky Setiawan, karena Indonesia memang harus waspada terhadap era Globalisasi, termasuk pencurian hasil budaya dan degradasi budaya yang dialami oleh generasi muda Indonesia. Tapi sudah waktunya juga bagi generasi muda (yang sudah keblinger dengan budaya asing) untuk menyadari hal ini.
Minggu, 07 September 2008
Aku Berlindung dari Hati Yang Berbolak-Balik
Kemarin aku bersama 2 teman lamaku, sebut saja Omar dan Kareem.
Omar adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan minuman terkenal di Sukabumi. Sedangkan Kareem adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan konsultan property di Batam.
Kareem datang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Dia datang 3 hari yang lalu. Sabtu sore dia meneleponku dan langsung saja aku datang ke The Ritz Carlton, hotel tempatnya menginap. Ketika pintu lift terbuka, teleponku kembali berdering lagi. Kali ini bukan dari Kareem. Ketika ku tekan tombol hijau yang ada di keypad handphone-ku, di ujung sana kudengar suara yang sudah lama tak kudengar. Omar yang memang dari dulu ngomongnya banyak, dia bilang kalau dia ada di Jakarta. ”Kutunggu kau di lobby...” katanya seraya menutup handphone-nya.
Setibanya di depan lobby Sahid Hotel, kulihat Omar tersenyum dan langsung membuka pintu depan Porsche Cayene yang kukendarai.
”Kita ke Ritz Carlton dulu, Kareem menunggu di sana.” kataku.
”Kareem juga di Jakarta...?” Omar terheran.
”Ya, sebelum kau menelepon, dia sudah memberitahuku dulu.” Timpalku.
Untungnya Traffic Jakarta tidak terlalu macet malam minggu ini. Dari Sahid ke Ritz Carlton hanya sebentar saja. Di lobby sudah mengunggu Kareem bersama teman-temannya. Setelah ia tahu mobilku baru sampai lobby, ia melambai pada teman-temannya itu dan bergegas menyusulku.
”Assalaamu’alaikum...” salam Kareem menggantikan celotehan Omar yang memang suka ngelawak.
”Ha...ha...Alaikum salam....apa kabar Reem...?” Jawabku. ”Bagaimana kabar Ibra...sudah bisa apa dia..?” aku menanyakan kabar anaknya.
”Alhamdulillah, Ibrahim sudah TK.” jawab Kareem singkat. ”Loh, kamu juga ke Jakarta Mar...?”
”He..eh...” Omar menjawab lebih singkat.
Aku mengajak kedua teman nyentrikku ini makan di sebuah restoran di Taman Anggrek. Di tengah-tengah enaknya makan, Kareem melihat seorang wanita yang kelihatannya sedang bertugas di restoran tempat kami makan. Dia berbisik, ”Sampai kapan dia akan bekerja di luar...?”
He...he...aku tersenyum.
Lalu Omar menimpali, ”Aku pernah diskusi dengan seorang ustadz. Sang ustadz berkata bahwa sebenarnya suami istri bekerja, penghasilannya sama dengan bila hanya suami saja yang bekerja. Lalu untuk apa istri bekerja? Diam saja di rumah, itu lebih membahagiakan suami.”
He...he...aku tersenyum lagi.
”Aku dulu nggak punya rumah, Alhamdulillah sekarang aku punya rumah, sedangkan istriku nggak kerja, cuman ngasuh Ibrahim dan Aisyah. Dan dulu kondisiku sangat kekurangan. Tiket pulang ke Jakarta saja aku dibelikan oleh temanku.” Kareem mencoba menjelaskan
Kasandra, istri Kareem, sebelumnya seorang karyawan sebuah perusahaan elektronik asing di Batam. Setelah berkeluarga, Kasandra berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk mengurus rumah tangganya. Rumah yang disebutkan Kareem tadi, sebenarnya terbeli setelah Kasandra mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan mendapat uang pesangon meski diteruskan cicilannya dari penghasilan Kareem. Alhamdulillah dan Astagfirulloh. Alhamdulillah karena Alloh telah menitipkan sebuah rumah padanya. Astagrfirulloh karena dia telah menghapus peran aktif istrinya untuk membeli rumah itu.
”Iya Li, makanya kalau kamu sudah ada calon istri, nikah lah, cepetan. Nggak usah ditunda-tunda, rejeki itu selalu ada.” Omar nyeletuk lagi.
Padahal hingga saat ini pun Omar juga belum menikah....
He...he...sekali lagi aku tersenyum.
Selesai makan, kami bersenda gurau, mengenang masa lalu yang menyenangkan. Tidak terasa sudah larut. Omar minta diantar kembali ke Sahid Hotel, karena ia harus pulang ke Sukabumi pagi-pagi sekali untuk menghadiri acara di perusahaannya Minggu siang.
Setelah mengantar Omar ke Hotel, Kareem tidak minta diantar ke Ritz Carlton, ia malah ingin menginap di apartemenku. Langsung saja aku meluncur pulang bersama Kareem di dalam Cayene hitamku
Sampai di apartemen, kami ngobrol di balkon sambil merasakan hembusan angin dan melihat kerlip lampu kota dari sana.
”Reem, aku teringat kata-katamu tadi saat melihat perempuan di restoran tadi....
Saat ini, Alhamdulillah, kondisi ekonomi kita sedang baik. Jadi istri bisa di rumah, mengaasuh anak dengan baik, menyenangkan suami dan lain-lain yang tidak bermotif ekonomi aktif. Tapi, apakah sudah kita siapkan saat kondisi kita tidak lagi seperti saat ini.
Bayangkan saat kita tidak lagi bisa berdiri tegak, harus duduk di kursi roda, anak-anak butuh biaya yang nggak sedikit, kreatifitas yang ada di otak kita tidak serta merta bisa diubah menjadi uang, tabungan tak dapat lagi mengcover semua kebutuhan. Apakah kita sebagai suami akan melarang istri untuk bekerja di luar rumah dengan menjaga diri dan tetap bertanggung jawab terhadap rumah tangga. Hidup harus terus berjalan......
..., nggak semua bisa di-generalisasikan Reem”
Yang pasti, apa yang dilakukan, baik kita maupun orang lain, itulah yang terbaik yang perlu dilakukan saat itu.
Yang nggak kalah penting, berlindung kepada Alloh dari sifat hati yang suka berbolak-balik.
Alhamdulillahnya, Sabtu malam kemarin, aku mendapat pelajaran yang berarti. Dan semoga persahabatan ini semakin punya arti
Omar adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan minuman terkenal di Sukabumi. Sedangkan Kareem adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan konsultan property di Batam.
Kareem datang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Dia datang 3 hari yang lalu. Sabtu sore dia meneleponku dan langsung saja aku datang ke The Ritz Carlton, hotel tempatnya menginap. Ketika pintu lift terbuka, teleponku kembali berdering lagi. Kali ini bukan dari Kareem. Ketika ku tekan tombol hijau yang ada di keypad handphone-ku, di ujung sana kudengar suara yang sudah lama tak kudengar. Omar yang memang dari dulu ngomongnya banyak, dia bilang kalau dia ada di Jakarta. ”Kutunggu kau di lobby...” katanya seraya menutup handphone-nya.
Setibanya di depan lobby Sahid Hotel, kulihat Omar tersenyum dan langsung membuka pintu depan Porsche Cayene yang kukendarai.
”Kita ke Ritz Carlton dulu, Kareem menunggu di sana.” kataku.
”Kareem juga di Jakarta...?” Omar terheran.
”Ya, sebelum kau menelepon, dia sudah memberitahuku dulu.” Timpalku.
Untungnya Traffic Jakarta tidak terlalu macet malam minggu ini. Dari Sahid ke Ritz Carlton hanya sebentar saja. Di lobby sudah mengunggu Kareem bersama teman-temannya. Setelah ia tahu mobilku baru sampai lobby, ia melambai pada teman-temannya itu dan bergegas menyusulku.
”Assalaamu’alaikum...” salam Kareem menggantikan celotehan Omar yang memang suka ngelawak.
”Ha...ha...Alaikum salam....apa kabar Reem...?” Jawabku. ”Bagaimana kabar Ibra...sudah bisa apa dia..?” aku menanyakan kabar anaknya.
”Alhamdulillah, Ibrahim sudah TK.” jawab Kareem singkat. ”Loh, kamu juga ke Jakarta Mar...?”
”He..eh...” Omar menjawab lebih singkat.
Aku mengajak kedua teman nyentrikku ini makan di sebuah restoran di Taman Anggrek. Di tengah-tengah enaknya makan, Kareem melihat seorang wanita yang kelihatannya sedang bertugas di restoran tempat kami makan. Dia berbisik, ”Sampai kapan dia akan bekerja di luar...?”
He...he...aku tersenyum.
Lalu Omar menimpali, ”Aku pernah diskusi dengan seorang ustadz. Sang ustadz berkata bahwa sebenarnya suami istri bekerja, penghasilannya sama dengan bila hanya suami saja yang bekerja. Lalu untuk apa istri bekerja? Diam saja di rumah, itu lebih membahagiakan suami.”
He...he...aku tersenyum lagi.
”Aku dulu nggak punya rumah, Alhamdulillah sekarang aku punya rumah, sedangkan istriku nggak kerja, cuman ngasuh Ibrahim dan Aisyah. Dan dulu kondisiku sangat kekurangan. Tiket pulang ke Jakarta saja aku dibelikan oleh temanku.” Kareem mencoba menjelaskan
Kasandra, istri Kareem, sebelumnya seorang karyawan sebuah perusahaan elektronik asing di Batam. Setelah berkeluarga, Kasandra berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk mengurus rumah tangganya. Rumah yang disebutkan Kareem tadi, sebenarnya terbeli setelah Kasandra mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan mendapat uang pesangon meski diteruskan cicilannya dari penghasilan Kareem. Alhamdulillah dan Astagfirulloh. Alhamdulillah karena Alloh telah menitipkan sebuah rumah padanya. Astagrfirulloh karena dia telah menghapus peran aktif istrinya untuk membeli rumah itu.
”Iya Li, makanya kalau kamu sudah ada calon istri, nikah lah, cepetan. Nggak usah ditunda-tunda, rejeki itu selalu ada.” Omar nyeletuk lagi.
Padahal hingga saat ini pun Omar juga belum menikah....
He...he...sekali lagi aku tersenyum.
Selesai makan, kami bersenda gurau, mengenang masa lalu yang menyenangkan. Tidak terasa sudah larut. Omar minta diantar kembali ke Sahid Hotel, karena ia harus pulang ke Sukabumi pagi-pagi sekali untuk menghadiri acara di perusahaannya Minggu siang.
Setelah mengantar Omar ke Hotel, Kareem tidak minta diantar ke Ritz Carlton, ia malah ingin menginap di apartemenku. Langsung saja aku meluncur pulang bersama Kareem di dalam Cayene hitamku
Sampai di apartemen, kami ngobrol di balkon sambil merasakan hembusan angin dan melihat kerlip lampu kota dari sana.
”Reem, aku teringat kata-katamu tadi saat melihat perempuan di restoran tadi....
Saat ini, Alhamdulillah, kondisi ekonomi kita sedang baik. Jadi istri bisa di rumah, mengaasuh anak dengan baik, menyenangkan suami dan lain-lain yang tidak bermotif ekonomi aktif. Tapi, apakah sudah kita siapkan saat kondisi kita tidak lagi seperti saat ini.
Bayangkan saat kita tidak lagi bisa berdiri tegak, harus duduk di kursi roda, anak-anak butuh biaya yang nggak sedikit, kreatifitas yang ada di otak kita tidak serta merta bisa diubah menjadi uang, tabungan tak dapat lagi mengcover semua kebutuhan. Apakah kita sebagai suami akan melarang istri untuk bekerja di luar rumah dengan menjaga diri dan tetap bertanggung jawab terhadap rumah tangga. Hidup harus terus berjalan......
..., nggak semua bisa di-generalisasikan Reem”
Yang pasti, apa yang dilakukan, baik kita maupun orang lain, itulah yang terbaik yang perlu dilakukan saat itu.
Yang nggak kalah penting, berlindung kepada Alloh dari sifat hati yang suka berbolak-balik.
Alhamdulillahnya, Sabtu malam kemarin, aku mendapat pelajaran yang berarti. Dan semoga persahabatan ini semakin punya arti
I Miss You Bunda
Saat matahari belum kukenal kau sudah menyayangiku
Saat udara belum kurasa kau sudah menyayangiku
Bahkan umurku belum terhitung kau sudah mendambaku
Dan kau telah menungguku meski namaku belum terpikirkan
Geliat demi geliatku kau rasa
Meringis dan meradang adalah hal biasa
Satu usapan telah menenangkanku
Kenakalankupun telah kau rasa
Puji syukur kehadirat-Mu Tuhan
Ibuku masih ada saat jeritan pertamaku didengarnya
Setelah ia menahan nafasnya
Setelah ia merasakan otot diseluruh tubuhnya menegang seakan putus sekala itu
Satu demi satu aku berjalan dalam tahap pertumbuhanku
Saat hanya bisa merepotkan
Saat hanya pandai membangunkannya saat matanya seharusnya masih terkatup
Tapi tak sedikitpun aku merasakan keberatannya mengasuhku dalam peliharaan-Mu
Aku berdiri di atas kekhawatirannya
Aku ada di atas gusarnya
Aku diam dalam senyumnya
Aku sunyi dalam tangisnya
Aku teringat saat-saat yang sangat berat baginya. Saat yang dicintainya tak lagi berdamping di sisinya. Sangat berat. Tangiskupun tersembunyi dari pandangannya. Karena aku tak mau hidupnya semakin berat oleh raut kusutku.
Hingga umurku yang saat ini
Belum juga aku dapat menyayangimu
Hingga jarakku yang begitu jauh darimu
Tidak juga aku beranjak untuk mengukir senyummu
Mendengar suaramu saja tak sanggup kunyatakan setiap hari
Apalagi untuk mencium tanganmu yang telah mengasuhku
Saat kau katakan untuk tegak dalam hidupku
Saat itu pula aku kembali pada waktu engkau tegak dalam mempertahankan hidup untuk anak-anakmu
Saat udara belum kurasa kau sudah menyayangiku
Bahkan umurku belum terhitung kau sudah mendambaku
Dan kau telah menungguku meski namaku belum terpikirkan
Geliat demi geliatku kau rasa
Meringis dan meradang adalah hal biasa
Satu usapan telah menenangkanku
Kenakalankupun telah kau rasa
Puji syukur kehadirat-Mu Tuhan
Ibuku masih ada saat jeritan pertamaku didengarnya
Setelah ia menahan nafasnya
Setelah ia merasakan otot diseluruh tubuhnya menegang seakan putus sekala itu
Satu demi satu aku berjalan dalam tahap pertumbuhanku
Saat hanya bisa merepotkan
Saat hanya pandai membangunkannya saat matanya seharusnya masih terkatup
Tapi tak sedikitpun aku merasakan keberatannya mengasuhku dalam peliharaan-Mu
Aku berdiri di atas kekhawatirannya
Aku ada di atas gusarnya
Aku diam dalam senyumnya
Aku sunyi dalam tangisnya
Aku teringat saat-saat yang sangat berat baginya. Saat yang dicintainya tak lagi berdamping di sisinya. Sangat berat. Tangiskupun tersembunyi dari pandangannya. Karena aku tak mau hidupnya semakin berat oleh raut kusutku.
Hingga umurku yang saat ini
Belum juga aku dapat menyayangimu
Hingga jarakku yang begitu jauh darimu
Tidak juga aku beranjak untuk mengukir senyummu
Mendengar suaramu saja tak sanggup kunyatakan setiap hari
Apalagi untuk mencium tanganmu yang telah mengasuhku
Saat kau katakan untuk tegak dalam hidupku
Saat itu pula aku kembali pada waktu engkau tegak dalam mempertahankan hidup untuk anak-anakmu
Langganan:
Postingan (Atom)