Senin, 20 Juli 2009

Kisah Ayah


Sebuah forward dari seorang teman yang diambil dari tulisan Bayu Gautama.
Photo by Rudi B. Prakoso

=

Seperti mengutip kata Bayu Gautama..
"Genggamlah gundahmu dengan senyum karena Allah suka terhadap
orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh
dan gundahnya. Semoga".

=

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
"Yah, beras sudah habis loh...," ujar isterinya. Suaminya hanya
tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh
panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah, besok Agus harus bayar uang
praktek."

"Iya...," jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah
lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok
beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah"
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya
pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor
sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia
cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering
mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya
terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,
nanti semua Ayah bereskan," meski dadanya bergemuruh kencang dan
otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah
yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang
dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama
menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak
perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau
berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya
tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat
sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari
itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.
Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia
menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa,
menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh
aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela
menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya
kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu,
agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini,
masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam
kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan
gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah,
atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang
tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar
massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan
ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga. (Bayu
Gautama)

Selasa, 23 Juni 2009

Dirimu Dirinya by Pinkan Mambo





Saat ku pertama menatap dalam dirimu
Ku begitu yakin ini cinta
Tatap dirinya, rasa ku pun juga sama
Kumencintai dirimu dan mencintai dirinya

Tak ingin hidup tanpa rasa bahagia
Bahagia ku bila banyak cinta
Untukmu setia, namun hidup rasa hampa
Bukannya aku jahanam
Ku hanya mencari senang

Hatiku tak ’kan bisa berdusta
Cinta ini memang untuk dirimu
Dan untuk dirinya

Dan bila diantara kita menghilang
Tak kembali untuk selama-lamanya
Tak mungkin kusendiri, ‘kan kucari lagi

Tak ‘kan kubuang waktu
Tanpa cinta ku merana
Hatiku tak ’kan bisa berdusta
Cinta ini memang untuk dirimu
Dan untuk dirinya

Dan bila diantara kita menghilang
Tak kembali untuk selama-lamanya
Tak mungkin kusendiri, ‘kan kucari lagi

Rabu, 17 Juni 2009

Aku Manusia






Ketika engkau membumbungkan anganmu ke langit ke tujuh
Mata, rasa dan pikiranmupun akan melayang ke langit ke tujuh
Harapmu sangat tinggi
Inginmu melayang melampaui kakimu yang harus kau sadari masih memijak bumi
Engkau adalah manusia

Engkau membumbungkan aganmu ke langit ke tujuh
Meninggalkan bumi dan kemanusiaanmu
Engkau tak menyadari bahwa engkau masih manusia
Masih manusia

Anganmu mencekikmu
Harapmu menghempas tubuhmu hingga remuk redam
Tak berbentuk

Oleh karena angan yang kaubentuk telah meninggalkan ragamu
Oleh karena rasamu jauh meninggalkan tubuhmu
Engkau tak menyadari bahwa engkau masih manusia

Angan tak selamanya bisa dinyatakan
Rasa tak selamanya menuruti kata hati
Bila engkau menuruti angan
Bila engkau menuruti kata hati
Engkau hanya menunggu ajal yang akan menyempitkan kuburmu

Hidup indah, matipun indah
Bagai air mengalir tanpa dipaksa kemana air ini akan menuju
Bukankah telah takdirnya bahwa air akan menuju laut lepasnya

Oleh karena engkau masih di bumi
Aku inginkan engkau berada dibumi
Bukan di langit ke tujuh

===
Gunakan akal sehat untuk bertindak sesuatu
Hati yang kaumanjakan akan sangat menyakitimu
Jejakkan kakimu ke bumi
Maka sadari bahwa engkau harus berinteraksi dengan lebih banyak manusia
Di bumi

Selasa, 16 Juni 2009

Teladan Seorang Ayah (Sebuah Forward)






Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah - Will Rogers

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu." Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.".

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."
Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin."
Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.
Setelah menikah, kuceritakan kepada susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. "Mungkin popoknya basah," kata susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.
Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. "Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.
Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan . Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

-----> : Sebuah cerita yang luar biasa bukan ? Inilah sebuah cerita yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya. Semoga cerita ini menginspirasi bagi kita semua

Minggu Pagi






Hari Minggu, 14 Juni 2009. Ada sedih yang diam-diam menyelinap di lipatan hati saya. Sebuah keprihatinan yang dengan berani dihadapi.

Kurang lebih 2 bulan yang lalu, adik ipar teman lamaku, sebut saja dia Budi, tinggal di rumahku. Sebelumnya dia kost dengan teman dari kakak iparnya. Karena teman sekamarnya itu menikah, maka Budi tinggal di rumahku.

Selama 2 bulan itu, terus terang aku merasa sedikit terbantu. Paling tidak ada teman ngobrol saat insomnia datang, ada teman makan saat tengah malam kelaparan, ada yang bangunin buat bangun pagi supaya nggak telat masuk kerja. Tapi ya sudah...Budi sudah ambil langkah. Aku nggak mau memaksakan apa yang ada di kepalaku, meski di kepalaku, langkah yang dia lakukan tidak merubah kondisinya.

Memang kakak Budi, sebut saja dia Wati, masih baru sampai Jakarta. Ceritanya baru merantau. Baru ke Jakarta. Wati tinggal dengan teman kakaknya, istri dari teman lamaku. Wati masih merasa takut saat pulang kerja, maklumlah track yang harus ditempuh dari tempatnya kerja ke tempat kost lumayan jauh.

Budi terlihat sangat bertanggung jawab atas keberadaan dan kenyamanan kakaknya. Hingga pada hari Minggu 14 Juni 2009 lalu, dia menemukan satu tempat kost.

Hari itu, saat Budi keluar,aku masih tidur. Hari Minggu adalah hari merdeka untuk melepaskan kepenatan. Aku terbangun kurang lebih jam 9.00 pagi. Budi membawa motor milik kakak iparnya. Melihat aku sudah bangun, dia berpamitan. Dia kemasi pakaiannya yang tersimpan di lemariku.

Melihat dia mengemasi pakaiannya, aku masih nonton acara tv. Menjelang dia selesai berkemas, aku mandi dan mengantar dia ke tempat barunya.

Nggak jauh dari rumahku. Bila ditempuh dengan jalan kaki, kurang lebih hanya 15 menit. Sesampai di sana... Ya Alloh, hatiku sedih sekali. Sangat sedih. Layak...memang nggak sangat layak, tapi cukuplah. Tempat kost ku di Gresik dulu lebih buruk lagi.

Sedihku sangat menyesak saat aku membantu Budi memasangkan koran sebagai pengganti tirai di jendelanya. Ya Alloh...sebegitu besar keinginan dia untuk kost.

Tapi sekali lagi sudah lah...aku hanya bisa membantu saat dia dan atau siapapun butuh bantuanku. Aku nggak mau memaksa, khawatir dibilang terlalu banyak menuntut dari sebuah pertemanan. Hanya saja, pintu rumahku selalu terbuka.