Senin, 18 Agustus 2008

Indonesia, Aku ingin bangga padamu

16 Agustus 2008

Baru saja aku melihat tayangan di Trans7. Pokok pembicaraannya adalah keluhan para ahli dan pengamat politik tentang banyaknya partai yang nangkring buka lapak di Pemilu 2009 yang kampanye-nya sudah dimulai.

”Banyaknya partai yang ikut dalam Pemuli 2009 nanti sungguh membingungkan rakyat. Mungkin rakyat sudah tidak interest dengan keberadaan partai yang banyak ini, atau malah jijik. Rakyat bingung yang mana bendera partainya. Ini adalah bukti bahwa management Republik sudah salah.”

”Ya...banyak sekali teman-teman yang sudah gagal dalam partai yang sebelumnya, ramai-ramai membuat partai sendiri. Jadi syahwat untuk menjadi penguasa ini memang sangat besar.”

Dua pernyataan di atas dilontarkan oleh politisi dari partai, dan dua-duanya dari partai besar.

Padahal, saat orde baru baru saja bangkrut, banyak politisi dan pengamat politik yang komplain, kenapa partainya hanya 3, di luar sana, di beberapa negara maju partai itu banyak, sehingga pemikiran dan pendidikan politik bagi rakyat sangat terbuka.

He...he...
Apakah bangsaku ini adalah bangsa munafik...
Sebentar bilang ingin banyak partai...sebentar komplain kebanyakan partai...
Yang salah pemberi mediasi bagi partai...apa pengamat politiknya yang goblok, kalau pelaku yang ada di partai saya tidak komentar, yang di sana memang bersyahwat besar untuk ingin berkuasa.

Golput...
Bukan hal yang bijaksana. Apalagi ajak-ajak, nggak pantes dijadikan panutan.


17 Agustus 2008

Selain menonton Avatar dalam Book of Fire di Global TV, aku juga menonton Apa Kabar Indonesia Pagi di TVOne. Di sini dihadirkan pelaku sejarah dan fotografer yang bekerja pada jaman perjuangan, sembari menunggu detik-detik proklamasi yang rencananya akan disiarkan oleh semua tivi.

Host berkomentar bahwa generasi muda sekarang sama sekali tidak menghargai sejarah. Tentu saja Sejarah Perjuangan Indonesia. Tidak mengenal para Pahlawannya. Pepatah yang bilang: ”Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Pahlawannya” semakin sering disebut-sebut.

Padahal, saat reformasi bergulir, orang-orang pandai itu berkomentar bahwa sejarah yang ada di masyarakat, hanyalah kebohongan besar yang dikarang oleh orde baru untuk mendapatkan hati rakyat, bahkan ada rencana pelajaran sejarah sudah tidak diperlukan lagi untuk di pelajari di sekolah-sekolahdan sudah waktunya pelajaran sejarah dihapuskan dari kurikulum.

KRISIS APA LAGI INI.
APAKAH BANGSA INI MEMANG BANGSA YANG MUNAFIK.

DUNIA SEDANG MENTERTAWAKAN KITA, INDONESIA.
BUKAN KARENA ULAH ORANG LAIN, TAPI OLEH KELAKUAN BANGSANYA SENDIRI.

Ada satu joke jawa yang mungkin tepat bila diarahkan ke Indonesia:
Isuk dele, sore tempe

Bahasa indonesia-nya:
Pagi kedelai, sorenya sudah jadi tempe

Sangat memprihatinkan.

Di salah satu iklan tokoh reformasi (atau bahkan capres putaran 2009 nanti), dielukan:
100 tahun kebangkitan nasional
63 tahun kemerdekaan
10 tahun reformasi

Sangat mengiris hati. Saya sebagai satu bagian dari bangsa Indonesia, seharusnya bangga dan bisa membanggakan negeri ini. Indonesia. Tapi setelah mendengar mulut orang-orang pintar itu, saya hanya bisa menunduk dengan kepala yang merah, menanggung malu.

Minta partai lebih dari 3, setelah dituruti dengan partai banyak, malah komentarnya jangan banyak-banyak.

Sejarah digembar-gemborkan hanyalah kebohongan dan dihapus saja dari kurikulum sekolah, sekarang malah minta generasi muda belajar sejarah.

Entah berita apalagi tanggal 18 Agustus 2008 besok. Liburku masih sehari lagi.

Ape diapakno bongso iki. Ape mbok gowo nang endi pikirane bongso iki. Saiki sing njajah Indonesia iki duduk londo ambek jepang, sing njajah Indonesia iki yo bongsone dewe, sing sekolane jarene pinter, sing sekolane nok luar negeri, tapi nggilani, isone nggembosi bongsone soko njero, cumak iso nggobloki bongsone dewe. Nek cumak pingin nyocot & mlebu tivi, luwe apik wong-wong koyok ngono iku mati. Kemerdekaan gak disyukuri, gak diisi ambek barang nggenah.

Sepurane sing gede Indonesia. Aku gak iso ngekeki sing gede kanggo bongsoku. Aku duduk wong sing pinter. Aku cumak wong pabrik sing sering diakali ambek wong-wong pinter, tapi ojok dipikir aku wong goblok. Aku duduk wong sing tahu sekolah nok universitas dalam negeri opo maneh luar negeri, tapi aku duduk wong sing keblinger ambek kepinterane.

Sepurane nek tulisanku seje ambek pikirane sing moco. Sepurane nek tulisanku seje ambek sing wis nyocot nok ngarep tivi.

Minggu, 29 Juni 2008

I'm Sorry Dad...

You have been leave me
Not alone body
But alone think

Difficulty by difficulty must pass by tears, by blood
Emotion often dominated every step
Cause our live really-really hard
Yes, I must understand who I am

Momentarily
One of your three sons will go
Going to picks his wife
His choice self

But...
At last second of his marriage time
So many problem that he should solves
And he doesn’t capable to solve on the spot problem
Once more just emotion often dominated every step

Dad...
I successfully to motivate my crew on my company where I work

But I’m sorry...
My standard way can’t change my brother, your son
One of your three sons

I don’t care he will care about me
I just ask he care about mom
How he will bring mom to your marriage places
To see her son make an oath
Oath on his marriage

I don’t care he doesn’t need me anymore
I just want he understands he will need mom
His require maybe not now
Because live not just now

I don’t care he never contacts me
Call me by phone or come to my home
I just hope he always contacts mom
Just say hello and ask how his health

I never need his money
I just want he ask mom what her need

I can understand how big desirability mom to get attention from him, his son
I want to see mom can smile because him
Not just think for and about him

Maybe what I want too high, too much
Are my desires not logic?
Are my hopes too excessive?

Dad...
I’m sorry...
I can’t bring our family like what you want
Like what you hope
Like what you mandate to me


Cikarang-

Minggu, 08 Juni 2008

?




Entah siapa engkau
Yang pasti aku sedang mencarimu

Dimana engkau ada
Aku sedang menuju ke tempatmu

Aku tak menunggu engkau datang padaku
Karena aku yang seharusnya mendatangimu
Tapi yang kutunggu adalah
Tangan Alloh yang membukakan pintumu untukku

Aku yakin engkau sedang menungguku
Meski engkau belum pernah tahu bagaimana aku
Siapa aku
Bahkan dimana aku

Engkau...
Seseorang yang akan bersamaku
Yang akan selalu bersabar denganku hanya untuk-Nya
Yang akan menyatukan hati mengabdikan diri pada-Nya

Ya...karena hidupku hanya untuk-Nya
Untuk mengabdikan seutuhku hanya kepada-Nya

Bersediakah engkau...
Untuk menjadi yang sabar bersamaku
Yang mengabdi denganku

Tak perlu kau katakan sesuatu
Tunduk wajahmu telah mengatakannya
Satu senyum sudah menjadi jawab atas harapku
Itupun sudah cukup bagiku
Yang akan membesarkan hatiku
Untuk mantap berjalan bersamamu
Menapaki jalan yang masihkah panjang
Atau tinggal sepenggalan saja

Tak perlu hirau akan sisa waktu yang tertinggal
Waktu memang sudah sisa sejak kau dan aku ada
Yang perlu dihiraukan adalah
Apa yang akan kita lakukan untuk membuktikan pengabdian kita
Kepada-Nya

Senin, 26 Mei 2008

Jam 23.15 hari Jum’at 23 Mei 2008


Pas saat itu, saya melihat siaran Metro TV. Sedang ada pengumuman kenaikan harga BBM yang akhir-akhir ini marak di tentang banyak kalangan. Dari Sang Mahasiswa, LSM, bahkan beberapa Kepala Daerah, beberapa Anggota DPRD, apalagi masyarakat umum dengan membawa nama front masing-masing.

Aksi keprihatinan tidak berguna lagi. Pemerintah merem. Tidak melihat atau tidak mau melihat. Atau mungkin kita yang kurang melihat ?

Harga minyak dunia memang tinggi. Kita butuh langkah strategis. Kita.....K...I...T...A. sekali lagi K...I...T...A, kita. Bukan hanya rakyat yang harus mengkekang perut, tapi juga pemerintah harus lebih awas dan kritis terhadap perubahan yang ada.

Pak, saya mbayar sampeyan jadi pejabat, buat mikirin kita, untuk membuat hidup kita lebih mudah, bukan ngruwetin hidup yang sudah super ruwet.

Gambar di atas adalah foto tukang emis di satu daerah di Jawa Timur. Saya tidak tahu mereka nonton TV atau tidak. Kalau mereka nonton TV, mereka pasti lebih memperkuat lapak mereka di pinggir jalan memutar itu. Tahu kenapa? Karena jumlah komunitas ini akan segera bertambah. SEGERA bertambah.

Terakhir saya melihat keberadaan mereka (sekitar tahun 1998), mereka ada di setiap tikungan. Entah saat ini. Mungkin besok setiap 3 meter sudah ada tukang emis-nya.

BLT? Saya tidak yakin mereka mendapat jatah itu. Kenapa? Karena saya yakin mereka nggak punya KTP.

BLT? Enak bener. Aldo (bukan nama sebenarnya) teman saya berkomentar. Dia tidak punya pekerjaan alias pengangguran murni. Punya KTP, surat keterangan miskin pun dia punya, makan di warteg, ”Cukuplah...!” dia bilang.

”Do...Do..., kamu bukannya cari kerjaan malah seneng banget terima BLT...” umpatku

”Lha di kasih..., ya diterima. Ini yang namanya rejeki, Ndri...!” jawabnya sambil nyengir & menghisap Marlboro-nya.

---

Satu sisi kita memang harus menerima niat baik pemerintah, untuk membedakan mana orang-orang kaya, yang punya mobil, yang punya motor, dengan masyarakat yang hanya punya nafas.

Tapi di sisi lain, jangan sampai bantuan yang sudah di release oleh pemerintah menjadi candu bagi rakyat yang hanya punya nafas itu. Terutama manusia yang masih sedikit umurnya. Manusia macam ini harus banyak bergerak, agar energi kinetisnya bisa diubah menjadi uang dimana uang inilah yang akan menjadi starting point untuk mereka selalu bergerak dan kecanduan untuk mengubah energi kinetis tadi menjadi energi spirit. Energi spirit ini bisa digunakan untuk menghasilkan energi kinetik, begitu seterusnya. Bersinergi.

Selasa, 13 Mei 2008

i n d o n e s i a ... ku (?)

Cikarang.- Semakin hari semakin ngeri saja.

Indonesia yang beragam, baik dari budaya hingga kehidupan beragamanya. Sangat beragam.

Indonesia yang demokrasi, semuanya didemokrasikan. Sampai-sampai yang namanya agamapun didemokrasikan.

Semakin hari semakin ngeri saja saya hidup di Indonesia. Jaminan hidup layak di atas tanah ini saja semakin hari semakin tepis, apalagi jaminan hidup akhiratnya.

Harga minyak sudah pasti dinaikkan. Harga minyak inilah yang menjadi automatic switch bagi kenaikan harga komoditi yang lain. Terutama yang namanya kepentingan perut.

Yang paling tidak bisa diterima akal sehat itu adalah agama yang didemokrasikan. Tengok saja gosip aktual akhir-akhir ini. Ahmadiyah, yang punya nabi terakhir yang namanya ghulam ahmad, yang sudah jelas menistakan agama ISLAMnya orang sedunia masih ada yang bilang bahwa semua harus dimusyawarahkan. Bahkan orang-orang yang sebelumnya sangat saya hormati karena tokoh itu dinilai memahami ketauhid-an, malah pasang badan dan memberi pernyataan yang sangat lucu. “Siapa bilang Ahmadiyah itu sesat?”, begitu katanya. Dan orang ini memang sudah lucu meskipun tidak diparodikan.

Saya setuju dengan apa yang dinyatakan oleh seorang tokoh Islam yang nggenah yang masih tersisa di Indonesia. “Kalau nggak nyathut nama Islam, mungkin orang Islam juga nggak merasa terganggu. Tapi yang dicathut itu Islam, ya jadinya jelas sesat.”

Dalam syahadat sudah jelas.

Belum lagi beberapa kyai dari Jawa Timur mendatangi MUI untuk mengadakan pembelaan terhadap Ahmadiyah. Lebih-lebih lagi bawa-bawa nama Nyi Roro Kidul. Salah satu kyai itu ngomong bahwa orang-orang kita aja masih percaya sama yang namanya Nyi Roro Kidul, kenapa Ahmadiyah harus dihancukan sedangkan yang percaya Nyi Roro Kidul nggak, kan nggak adil.

Dalam hati saya ngikik…lha wong Kyai Gurunya begitu ya muridnya bakal kayak gitu juga. Rupanya Kyai itu memuja Nyi Roro Kidul (Na’udzubillah). Itu artinya dia menduakan Alloh Azzawajallah. Dan dia rupanya juga nggak ngerti produk budaya dan mana yang produk agama. Itu Kyai lo…Mimpin pondok lo…(nggak tahu pondok pesantern atau pondok putri, yang penting pondok)

Belum lagi yang namanya jaringan islam liberal (jil). Orang Islam model ini klaimnya modern dan demokratis. Penuh akal-akalan. Pokoknya akal di depan. Bagi saya kaum ini adalah kaum keblinger. Kepinteren. Pola pikirnya malik. Memang cocok kalau disebut kepinteren, soalnya selalu minteri orang, apa lagi orang yang beragamanya bersifat personal fanatisme, super males menjalankan ibadah, tapi…bajunya keren, berdasi, pakai jas, keluaran Universitas Terkemuka, baik Indonesia maupun jebolan Negara sekuler. Herannya banyak di antara mereka itu belajar Islam dari Negara Super Sekuler, bukan belajar agama dari Negara Ibu dari agama itu.

Di jaringan inipun, oang yang sangat saya hormati sebelumnya itu juga pasang badan. Sekali lagi orang ini memang sudah lucu meski bukan lulusan audisi lawak nasional.


Miris hati ini.
Di jaman saya, keruwetan hidup sudah teramat sangat. Di jaman saya ini keruwetan kepercayaan noda menodai. Bagaimana dengan jaman anak saya nanti?

Apakah jawabannya adalah hijrah?
Pindah dari negeri ini?
Ke negeri orang yang mana yang paling cocok?
Bukan hanya cocok agamanaya, tapi cocok segalanya. Hidup dunia dan akhiratnya.

Kita seperti jadi bahan tertawaan kaum kafir.

Sepertinya, pemerintahan SBY-JK mendapat cobaan yang sangat berat. Pemerintahan ini dihadapkan pada 2 hal sulit yang saling bertolak belakang. UUD ’45 & Agama. Agama di dalam UUD ‘45, bukan UUD ’45 di dalam agama. Bila SKB 3 menteri di release, itu artinya pemerintahan ini konsisten terhadap agama dan akan dianggap tidak konsisten dengan UUD ’45 oleh para Nasionalis. Bila pemerintahan ini membiarkan Ahmadiyah mengakar di Indonesia, itu artinya pemerintahan ini tidak konsisten terhadap agama dan lebih memilih membela UUD ’45 yang jelas tidak akan konsisten sepanjang jaman.

Indonesia…Indonesia…

Ya Alloh, Muliakanlah negeri ini bila negeri ini membawa kemaslahatan bagi seluruh kehidupan di dunia dan akhirat. Namun bila negeri ini memang hanya membawa keburukan di segala sisi, mungkin tenggelamnya negeri ini lebih berarti daripada adanya.

Semoga Alloh memberikan jalan terbaik bagi eksistensi negeri ini. Indonesia…